Tulisan ini merupakan repost dari akun LINE Voom pribadi, dengan setting postingan private (gaada yg bakal baca juga disini wkwk)
Diposting pada 26 Septembern 2019, pukul 02.35 am.
---------
Duar. Bingung.
Aku bingung ketika ditanya oleh petugas bank kemarin saat mengambil beasiswa PPA. "Ngekos dimana?", aku berpikir sejenak, awalnya bingung mau menjawab apa. Dan akhirnya menjawab "Saya mondok pak, di pondok Y", "Oh, bisa ya atur waktunya?" kata bapaknya terheran. "Iya, dibisa-bisa in pak.", "Berati kalo pagi kuliah, terus malemnya ngaji gitu?", "Iya, h3h3"
Pertanyaan sesederhana "Ngekos dimana" menjadi pertanyaan horor bagiku. Pertanyaan ini seakan bernada mengancam. Meneror. Menanyakan tanggungjawabku. Seakan diriku tau bahwa aku tidak berhak menjawab bahwa aku mondok. Tetapi jika begitu, aku jadi kebingungan harus jawab apa lagi. Masa ngekos di kampus?
Yap. Meneror. Segala perkataan, pertanyaan, dan penyataan orang-orang dan teman di kampus yang selalu berhubungan dengan pondok menerorku. Pertanyaan ngekos dimana lah, bercandaan 'santri buchen' oleh teman satu golongan praktikum lah, apalah. Karena faktanya aku sudah lama tidak berada di pondok lagi. Singkatnya, kabur. Hahah. Menghilang tanpa izin. Sudah berapa lama ya? Sepertinya tidak begitu lama. Sejak awal Agustus mungkin. Okeeey. Itu sangat lama, nyaris 2 bulan. Dan ini pun bukan pertama kalinya.
Dulu, disaat Ramadhan yang seharusnya iman lagi kuat-kuatnya. Aku malah cuma sekali solat tarawih di pondok, sisanya di masjid kampus biar bisa ndenger ceramah pak Mahfud MD atau Amin Rais (yang ternyata ga jadi dateng), atau di masjid sekitar kampus lainnya. Syukur-syukur masih full tarawih, tapi ngga tau kalau tahun depan masih begini. Bisa-bisa ngga solat lagi hahah.
Malam jumat lalu, 12 September. Aku bercerita dengan mas2 senior kamarku di burjo sebelah pondok. Waktu itu aku berharap bisa bertukar cerita banyak. Tapi ternyata tidak. Wajah mas nya menandakan muka serius. Oke. Aku bisa paham karena tingkah laku yang ku perbuat memang sudah kelewatan dengan tidak muncul di pondok dalam waktu yang terlewat lama. Tanpa izin pula. Tapi ada satu hal yang berkesan bagiku malam itu, "Dulu aku kayak kamu Fal. Nakal pas mondok. Ngga betah ngaji. Sampai dimarahi sama kyai ku dulu, tapi tetep mbandel. Tapi sekarang aku bisa ngerasa nikmat waktu ngaji. Ya. Butuh 6 tahun sampai aku dapet hidayah biar betah ngaji. Mungkin kamu juga lagi berada di fase itu. Mungkin butuh 3, 6 atau 10 tahun agar kamu bisa betah mondok. Ngga ada yang tau." Oke. Itu nasehat yang cukup menyeramkan bagiku, tentu saja 6 tahun waktu yang lama sekali. Ayolah, aku lebih suka bergerak cepat. Tapi Okayy, di sisi lain aku mengerti bahwa kejenuhan ini nanti juga ada ujungnya.
"Kamu bisa contoh mas X yang mapres, presma pula (btw halo mas X yang mungkin lagi baca tulisan ini). Manajemen waktunya gila-gila an. Aku ngaku ngga bisa meniru X. Setiap hari mesti disempetin buat ngaji. Meski dateng pas magrib njuk habis ngaji balik ke kampus lagi. Dia juga punya waktu khusus buat ngurus uang pondok, sowan ke ibuk. Si Z juga, dia kuliah di UNY dan malemnya shift kerja sampe pagi dan dia masih sempet buat ngaji. Z malah nambah kuliah lagi di filsafat UIN. Sebenernya kalo sibuk di kampus itu ngga bisa jadi alasan buat ngga ngaji. Semua kembali ke kamunya, mau apa nggak"
Ya. Aku terlalu sering membuat alasan yang barang kali mengada-ada. Organisasi lah. Kampus lah. Laprak lah. Rapat lah. PKM lah. Lomba lah. Istirahat lah. Nonton buat hiburan lah. Alasan selalu muncul pas jam-jam mepet mau ngaji. Dan akhirnya ngga pulang 2 bulan. Nakal memang saia. Ku akui. Dan kali ini aku ditampar keras-keras. 2 teman satu kamarku bisa tetap ikut madrasah tanpa alasan yang mengada-ada itu. Ga ada alasan ngga sempet. Yang ada memang akunya aja yang males dan ngga mau menyempatkan. Jujur pada diri sendiri mungkin menjadi problemku saat ini.
Kemarin, 25 September. Aku pulang ke Semarang. Senang akhirnya bisa menemukan satu hari dimana ngga ada agenda kampus yang semu ini. Di rumah bercerita lagi, meski selalu dengan alot, tentang rencana kuliah. Topik pondok selalu ku jawab dengan berbohong. "Kamu ngaji terus kan?", "Hehe, iya, aku sempatkan", "Lho kok gitu. Disempatkan terus to. Tapi yang bener-bener wajib jangan pernah lewat Mujahadah lho." "Hehe. Iya." Ya. Pada awalnya memang aku tidak berniat untuk mondok. Tapi ya sudahlah, dari pada kuliah di Undip njuk bisa dipantau sama orang tua dengan mudah. Tiap diskusi selalu saja muncul narasi-narasi baru. Kali ini adalah, "Kamu boleh kuliah di LN, tapi sekarang kuatin agamamu di pondok dulu sampai lulus S1. Nanti waktu profesi lanjut di Krapyak biar tau disana seperti apa. Orang-orang besar banyak yang dari Krapyak, Gus Dur juga dari sana." Okayyy, disappointed but not suprised. Muncul perasaan like "nah kan, kebiasaan ngide mondok terus", tapi kali ini juga 80% perasaan "WAH TUMBEN NARASINE APIK". Ya. Gatau kenapa perasaan yang muncul dominasi setuju. Tapi ngga tau gimana rasanya kalau dijalani.
Tapi kembali, jam 20.12 ibuk ku ngirim WA. "Sudah di pondok?", kujawab saja "Sudah". Padahal aku sedang berada di sekre dan lagi mendesain sesuatu. As usual, alasanku adalah "Gapapa lah hari ini nggak ngaji, kan baru aja pulang dari Semarang, besok kamis baru ke pondok". Kampret emang setan yang membisiku ini. Sampai akhirnya aku baru sadar belum sholat isya. DAN SIALNYA INI SUDAH TENGAH MALAM. sialnya lagi air sekre kok matiiii (Halo Sapras UGM, ini air udah mati sejak sblm saia pulang ke semarang). Akhirnya terpaksa dah pulang ke pondok, yang sebelumnya sempet mondar mandir parkiran-sekre untuk berpikir mending ke masjid deket kampus apa ke masjid pondok. Tapi kok sepertinya serem ke masjid tengah malam. Ya. Jadi aku tidak mau membohongi diriku dengan narasi sok epik "Aku ke pondok karena sadar h3h3" padahal cuma karena air mati dan belum solat isya, plus takut nek ke masjid yang ngga familiar tengah malam.
Dan here i am. Kembali ke pondok. Pukul 1 pagi. Dengan satu alasan yang memalukan, tapi malah berhasil membawaku pulang. Ternyata sederhana ya. Ini pasti doa ibukku terlalu banter sampai skenarionya jadi seperti ini.
Kesimpulan:
Mari kita lihat tarik ulur (lagi) antara bisikan setan dan keteguhan saya. Akan berapa lama kah saia bertahan untuk part kali iniii? Berapa lama waktu perenungan diri, tulisan gaje, curhat sama orang-orang sampai ego dan nafsu diri ini sadar bahwa WOI ILMU AGAMA ANDA ITU MASIH CETEK YA. JADI TOLONGLAH NGAJI YANG BENER :"
Kadang saia tau suatu hal ini baik, hal itu buruk. Saia tau kalo ngaji di madrasah itu hal baik yang harus saya lakukan karena ya memang ilmu agama saya cetek sekali. Tapi ngelakuinnya setengah mampus melawan bisikan setan ini, atau yang dalam versi *jujur dengan diri sendiri dan tidak mengkambinghitamkan setan* adalah melawan hati yang udah otw kerad. Astagfirullah :"
Saran:
Dari aku untuk aku, kurang-kurangi membohongi diri sendiri agar jadi sok keren. Kalo emang males dateng ke madin ya jangan dibuat2 alesan gegara laprak. Kampus kalo dijadiin alesan gak bakal selesai-selesai. Kalo males masih bisa diilangin. Berbohong dengan diri sendiri membuat anda tidak tau masalah apa yang sebenarnya muncul. Jadi kalo memang males ya bilang aja, dasar malesan awowkkw.
Dan btw, terimakasih kepada air sekre yang habis. Saya jadi pulang ke pondok pagi ini :)

Komentar
Posting Komentar