Santri dan Mahasiswa (Repost LINE Voom)

 [Santri dan Mahasiswa]


Jogja, 14 Oktober 2018
ditulis di balkon kompleks Al-Fatih dan kamar Pertamina

Waktu sekolah dulu, aku senang sekali membaca novel. Salah satu novel yang aku sukai adalah seri dari Negeri 5 Menara. Keren sekali kisah kehidupan para santri. Pergi merantau ke tempat pendidikan agama. Belajar kebijaksanaan hidup di bawah naungan pondok pesantren. Berangkat atas paksaan orang tua, namun beberapa dengan keinginan pribadi. Belajar di sekolah siang hari dan kemudian mengaji di malam harinya. Terkadang terjaga di pagi buta karena giliran piket ronda, takut sapi milik pondok ada yang mencuri. Kemudian makan bersama teman, tidur bersama teman, nyuci baju juga bersama teman. Menenteng kamus bahasa inggris dan bahasa arab saat mengantri mandi karena mempersiapkan giliran pidato 3 bahasa. Kemana-mana berbaju putih, sarungan dan berpeci hitam. Sangat bersahaja. Aku yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren hanya bisa membayangkan, wah keren juga ya menjadi santri. Andai aku punya kesempatan seperti itu, gumamku dalam hati kala itu. Namun akhirnya sekolah wajib 12 tahunku ku habiskan di pendidikan formal. Tanpa pernah menyentuh dunia santri. Belum.

Selepas SMA, sama seperti anak-anak lainnya, aku riweuh dengan pilihan perguruan tinggi. Sebagai bocah yang punya banyak mimpi, tentu saja aku ingin masuk di perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dan layar pengumuman SBMPTN menampilkan warna hijau untuk UGM. Sekarang dalam imajiku, aku menjadi mahasiswa keren di UGM. Rencana panjang 4 tahun kedepan sudah tersusun rapi. Aku siap merantau ke Yogyakarta.

Tapi hey, aku teryata juga mendapat amanah dari orangtua. Ternyata mereka tidak akan melepaskanku merantau begitu saja. Satu pesan dari bapak dan ibuku adalah "Kamu kalau mau kuliah di luar kota, harus mondok ya." Yep. Kaget. Tidak kusangka, doa seorang anak yang membaca novel bertahun-tahun lalu terkabul. Tapi siapa juga yang mengira aku akan menjadi mahasiswa sekaligus santri? Tidak pernah terbesit dalam imajiku, imajinasi terliar sekalipun. Tapi tak apa, aku dengan senang hati menerima amanah orangtuaku. "Toh tentu asik menjadi santri sekaligus mahasiswa, siang belajar sama dosen malamnya ngaji sama kyai," gumamku kala itu, masih belum tahu apa-apa.

Cerita-cerita dalam novel yang kubaca beberapa tahun yang lalu mulai terjadi dalam diriku. Siang ngampus malam ngaji, tidur makan nyuci bareng teman, bersarung dan berpeci. Di awal kehidupan menjadi santri dan mahasiswa semua lancar-lancar saja. Mengasyikan seperti imajinasiku diawal-awal. Semua masih terkontrol. Sampai akhirnya aku masuk di organisasi kampus. Aduh. Siapa pula yang menarikku ke dunia ini. Ya gimana ya, aku sejak SMA sudah suka dengan kegiatan organisasi. Tergabung dalam OSIS sebagai juru tulis dan menjadi ketua di organisasi lainnya. Tentu saja kesempatan untuk masuk di organisasi kampus yang lebih profesional tidak akan aku sia-siakan. Tapi ternyata pilihan ini harus kubayar mahal.

Semester berikutnya setelah masuk dalam organisasi, semua mulai berubah. Semangat! Aku harus membagi waktu 50:50 antara madrasah di pondok dan rapat-rapat yang mulainya sama-sama malam hari. Eh, tapi siapa pula yang mau disetengahkan? Tetap saja kehadiran 50% samasekali bukanlah hal yang baik bukan? Kelas di kuliah saja minimal 75% kehadiran. Semangat! Tugas semakin banyak, laprak semakin menumpuk. Semangat! Baru bisa nyentuh tugas jam 10 malam karena kegiatan pondok baru selesai setelahnya. Semangat! Baru bisa tidur larut sekali karena baru ngelarin tugas. Pokoke Semangat YA!

Karena rutinitas yang seperti itu, kini aku punya kebiasaan baru. Yap. Tidur di kelas. Kurasa tiap anak kelasku sepakat memilih diriku jika ada pemilihan mahasiswa paling ngantukan di malam apresiasi. Aku bahkan sering mencoba untuk duduk paling depan agar tidak ngantuk, tapi apa daya aku malah tertidur dihadapan dosen yang sedang mengajar. Memalukan emang.

Jangan dikira madrasah di pondokku berjalan lancar. Aku yang baru pertamakali mondok susah untuk beradaptasi disini. Aduh gimana ya. Umpatan sering muncul dalam hati karena saking tidak pahamnya dengan pelajaran madrasah. Keluhan-keluhan keluar, duh kenapa ini belajar masih pakai kitab kuno, duh kenapa pengantarnya bahasa jawa krama kok tidak indonesia saja, duh kenapa bukunya tulisan arab semua kan jadinya saya nggak paham, duh ya Allah mendingan aku ngerjain laprak kan lumayan jadinya bisa tidur gasik. Yang aku lakukan selama sejam cuma ngeluh. Nggak becus emang wkwk, nggak deng aku cuma butuh adaptasi. Sepertinya tahun depan aku akan memaksa mengulang kelas madrasah jika aku naik kelas agar lebih paham lagi. Eh, percaya diri amat bakalan naik kelas.

Berat nggak eh? Tentu saja berat. Tidak ada yang bilang ini akan mudah. Tenaga yang dikeluarkan besar sekali, sayangnya sesuatu yang didapat tidak sebanding. Ya gimana ya, lha wong kudu dibagi 2 antara kampus dan pondok. Apalagi pendidikan yang di kampus tidak linear dengan pondok. Beda ceritanya kalo misal saya kuliah ambil pendidikan agama njuk juga mondok, kan saling mendukung. Aku pribadi berkali-kali terjatuh. Tiba-tiba menangis pukul 2 dini hari melihat diriku sendiri. Bingung mau nangis dimana ketika lagi drop karena ngga punya tempat untuk sendiri, yang akhirnya nangis di motor sambil muter-muter tanpa arah. Takut buka grup organisasi karena malu ngga bisa kontribusi dengan semestinya. Bingung pas mau UTS sedangkan aku tidur mulu pas di kelas. Skip kelas seminggu karena semua sedang kacau. Yep. Mungkin inilah bagian sedih yang tidak tertuang di novel yang kubaca dulu. Dan yep. Its Okay. Menuntut ilmu memang harus melalui jalanan terjal. Cerita hebat selalu didahului kisah yang menyusahkan. Inilah proses.

Aku sering mengira, bertanya-tanya. Apakah jalan yang kulalui sekarang ini salah? Apakah bisa 24 jam dibagi untuk kampus, pondok, organisasi, mimpi-mimpi dan kebutuhan pokok ku sebagai manusia? BISA. Sebenernya bisa kawan. Ada kok manusia-manusia 'sakti' yang mahasiswa sekaligus jadi santri tapi tetep bisa jadi pejabat kampus, masih ada juga yang masih sempet juara di berbagai kompetisi, masih juga ada yang masuk bursa mapres. Sakjane bisa, tergantung individu masing-masing. Tapi tentu saja mereka yang bisa seperti itu memiliki cerita kelam dibelakangnya. Dan untuk aku pribadi, hehe, sepertinya adaptasi setahun-dua tahun belum cukup. Apalagi berproses untuk menuju itu. Jalan masih panjang membentang :"

Jadi, semangat teman-teman di luar sana yang sedang berjuang untuk menjadi mahasiswa di kampus namun tetap nyantri di pondok dan juga masih aktif di organisasi, lomba-lomba, ngevent dan lainya :" . Seberapa rapuh teman-teman, seberapa menyedihkannya diri teman-teman saat berkaca, kalian tetap hebat kawan. Sedikit orang yang berani menempuh jalan seperti itu. Banyak yang memutuskan untuk mondok saja dan apatis di kampus, banyak pula yang memutuskan boyong dari pondok untuk aktif di acara kampus atau ikut proyek mobil di fakultas. Dan kamu? Yep. Kamu masih bertahan disini, mengambil kedua-duanya. Dan kamu hebat. Selamat ya. I salute you. You have my respect!

Jadi, tetaplah semangat Ngaji, Ngajar, dan Ngabdi di pondok
Semangat juga Ngevent, Nugas, Ngelaprak, Nge-PKM, Ngambis, Ngeorganisasi, Ngelab, Ngebengkel di kampus
jangan lupa tidur, makan dan jaga kesehatan
Oiya, jangan lupa juga untuk bahagia ya :)

untuk #IndonesiaLebihNyantri

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2018
dari santri baru yang setahun mondok, dan maba yang juga baru setahun kuliah

----------------------------------------------------------------------

Video diatas diambil dari ig @aisnusantara. Yep. Santri sudah memiliki peran besar dalam keagamaan. Dan kini, saatnya santri juga ikut berperan dalam bidang profesional yang lain. Ekonomi, keteknikan, kesehatan atau farmasi misalnya. Dan kurasa, menjadi santri sejati plus mahasiswa aktivis merupakan langkah yang tepat untuk menuju kesana. Jadi, TETAP SEMANGAT!


#SELFREMINDER
#HariSantriNasional
#MahasiswaXSantri

Komentar